Pelajaran Budi Pekerti di Sekolah

Penanaman Budi Pekerti Sejak Dini merupakan
Tanggung Jawab Bersama Sekolah, Orang Tua, Masyarakat, dan Pemerintah


Oleh :

Drs LUGTYASTYONO BUDINUGROHO MPd

( Kepala SMA N 1 Gantiwarno Klaten periode 23 Des 2004 sd 5 Juli 2007 )

Beberapa hari yang lalu tepatnya hari Jum,at 19 Mei 2006 saya berbincang bincang dengan Pak Rajikan SPd (Sesepuh di sekolahan kami, salah seorang guru di tempat kami yang dulunya pernah mengajar di sebuah SMA Negeri Sulawesi selama 18 tahun ) tentang perlunya pelajaran budi pekerti mulai dari tingkat Sekolah Dasar sampai dengan Perguruan Tinggi. Beliau menambahkan bahwa pada waktu mengajar di Sulawesi dari 40 siswa ada kurang lebih 20 siswa menulis dengan tangan kiri, saya tidak mengatakan b ahwa menulis dengan tangan kiri itu jelek, hanya saja kalau di daerah kita ( Jawa ) anak kecil yang diberi sesuatu oleh orang tua menerima dengan tangan kiri, pastilah orang tua akan mengingatkan “ hayo ora pareng kudu nganggo astane sing apik ( maksudnya tangan kanan ) hal-hal kecil seperti inilah yang harus ditanamkan sejak dini.

Mahasiswa salah satu perguruan tinggi negeri di Makasar menutup jalur angkuta, memukuli sopir dan merusak mobil, di Jakarta ada tawuran antar mahasiswa hanya gara-gara kalah bertanding basket , dengan melihat kenyataan seperti ini, Katanya mahasiswa mau menerapkan demokrasi dengan jalan demonstrasi, nyatanya dengan demonstrasi yang tujuannya mulia yaitu mengemukaakan pendapat untuk memecahkan masalah malah menimbulkan masalah dengan membuat kerusuhan, membuat onar (tindakan kriminal /premanisme) perbuatan seperti inikah yang dikehendaki ? kasihan guru-guru di sekolah telah mendidik budi pekerti, tapi di rumah murid-murid diajari televisi ( misalnya : beberapa sinetron menampilkan baju seragam seorang siswa yang bajunya tidak dimasukkan, siswa laki-laki menggunakan anting, perkelaian antar pelajar, kelompok pelajar yang di cat rambutnya, beberapa infotainment memberitakan kawin cerai bahkan hamil diluar nikah dan lain-lainnya ) hal-hal demikianlah yang tidak mendidik tetapi memang tidak semua acara televisi menampilkan acara-acara yang tidak mendidik, tetapi paling tidak sutradara kalau mau menampilkan figur seorang pelajar konsultasi dengan Departemen Pendidikan Nasional, atau Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi, padahal didalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 9 tahun 2002 bab II

Bahwa penyelenggaraan kegiatan penyiaran televisi sesuai dengan prinsip-prinsip televisi publik yang independen, netral dan mandiri guna meningkatkan & mengembangkan sikap mental masyarakat Indonesia, meningkatkan pengetahuan kecerdasan, serta lebih memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa.

Sehingga saya berharap acara televisi kedepan disamping sebagai acara hiburan merupakan sarana informasi yang mendidik, karena tugas mendidik itu tidak hanya tugas guru, tugas guru itu mengajar dan mendidik, mengajar adalah mentransfer ilmu, mendidik adalah mengubah tingkah laku, pendidikan bukan hanya membuat siswa pintar tetapi yang lebih penting membuat manusia yang berbudaya, bukan hanya manusia yang terpelajar tetapi juga berbudaya ( educated and Civilized human being ), dengan demikian proses pendidikan sebagai proses hominisasi dan humanisasi seseorang yang berlangsung didalam lingkungan hidup keluarga dan masyarakat yang berbudaya kini dan masa depan, tugas dan tanggung jawab mendidik dikerjakan secara bersama-sama mulai pukul 07.00- 13.30 ( jam pelajaran sekolah ) adalah lebih merupakan tanggung jawab sekolah, diluar waktu jam-jam sekolah tugas dan tanggung jawab harus dipikul bersama antara orang tua ( masyarakat ) dan pemerintah.

Surat Keputusan Gubernur Jawa Jawa Tengah no.895.5 / 01 /2005 tentang kurikulum mata pelajaran bahasa Jawa tahun 2004 untuk jenjang pendidikan SD/ SDLB/SMA/SMK/MA negeri dan swasta propinsi Jawa Tengah, SK ini mengisyaratkan mulai tahun pelajaran 2005/2006 bahwa semua jenjang sekolah mulai dari SD sampai dengan Sekolah Lanjutan Tingkat atas baik negeri maupun swasta di propinsi Jawa Tengah wajib melaksanakan mata pelajaran bahasa daerah, memang pelajaran bahasa jawa dan kebudayaan jawa sering digelari adiluhung ini, sangat berpengaruh di Nusantara dan banyak sekali falsafah jawa yang mendidik kita untuk berbuat kebajikan contohnya :

Lambang Departemen Pendidikan Nasional “ Tut Wuri Handayani “ Seorang guru / pimpinan harus memberikan dorongan dari belakang, “ Adoh tanpo wilangan, cedhak tanpo senggolan “ artinya Orang yang percaya terhadap Tuhan harus melaksanakan perintah dengan apa adanya, karena Tuhan mengetahui segala sesuatu dan keberadaanNya tidak dapat dipahami sepenuhnya, “Mikul dhuwur mendhem jero “ Seorang anak harus menghormati dan menjunjung tinggi derajat & martabat orang yang dituakan. Dan masih banyak falsafah Jawa yang lainnya yang menuntun kita untuk bertingkah laku yang menjunjung tinggi keimanan dan nilai-nilai luhur budaya bangsa.

Kesimpulan :

Bahwa pelajaran budi pekerti yang terkandung dalam mata pelajaran bahasa daerah perlu diberikan mulai sejak dini dari tingkat dasar bahkan prasekolah ( play group dan taman kanak-kanak ) sampai dengan perguruan tinggi agar pada era reformasi ini generasi muda sebagai generasi penerus bangsa ( tulang punggung negara ) dapat menjadikan bangsa dan negara Indonesia yang lebih berbudaya, demokratis,dan lebih menghormati hak-hak azasi manusia. Dengan demikian bangsa Indonesia menjadi : 1) bangsa yang terhormat, 2) bangsa yang bermartabat, 3) bangsa yang disegani, 3) bangsa yang bermoral, dan 4). Bangsa yang memiliki nilai-nilai luhur dan jati diri bangsa.

BIODATA

Drs. LUGTYASTYONO BUDINUGROHO,M.Pd. , Kepala SMA Negeri 1 Gantiwarno, Klaten

7 gagasan untuk “Pelajaran Budi Pekerti di Sekolah

  1. Pak NONO Blog’y Ok ….. Maju terus SMA Karangnongko !!!
    Bener bgt Pak….. Penanaman Budi Pekerti sangat penting demi majunya generasi muda yng lebih baik, yang punya rasa hormat kepada orang tua, guru, orang lain dll……

    • Bener banget itu pak..yang paling penting ya pak kerjasamanya antara pihak sekolah dengan pihak keluarga dan masyarakat, harus satu persepsi dan misi serta visi..apapun yang di lakukan pihak sekolah yang tujuannya untuk membentuk insal kamil yang bermoral dan bermartabat demi anak didik kita akan tetapi sokongan ataupun dukungan dari pihak keluarganya ataupun orang tuanya tidak mendukungnya apa boleh buat tentunya kita sebagai pihak sekolah tidak dapat maksimal untuk berbuat sesuai tujuan yang sudah kita rencanakan karena pengaruh yang sangat besar yang mempengaruhi watak kepribadian seorang anak paling banyak di pengaruhi pada keluarganya lalu lingkungannya,namundemikian kita jgn menyerah pak untuk berbuat dan menyebar kebaikan di tengah umat terutama di kalangan generasi muda bangsa dan negara kita.

      • oke Pak Marno, memang pelajaran budi pekerti adalah suatu proses pembentukan perilakusangat penting bagi siswa-siswi kita agar nantinya terbentuk generasi muda yang bermoral tau akan unggah-ungguh sebagai bangsa yang berbudaya

  2. Betul sekali, tetapi bagaimana menjadikan bagian dari mata pelajaran yang terkait supaya ada kesatuan / keseragaman. Hal-hal apasaia yang diberikan kepada siswa dan yang sangat mendesak untuk saat ini , supaya tidak sia-sia terimakasih.

  3. Bu Setyawati betul sekali memang pelajaran Budi Pekerti memang wajib dikaitkan ke semua bidang studi contohnya :
    1. Mencintai sesama
    2. Mencintai lingkungan
    3 Mencintai NKRI
    4.Mencintai Pancasila
    5.Mencintai UUD 45
    dll nya makasih ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s