GEMPA 27 Mei 2006

INOVASI KEPALA SEKOLAH DAERAH GEMPA

DALAM UPAYA PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN

DI SMA NEGERI 1 GANTIWARNO KLATEN

Disusun Oleh :

Drs. LUGTYASTYONO BUDI NUGROHO.M.Pd.

MANTAN

KEPALA SMA NEGERI 1 GANTIWARNO KLATEN

SEKARANG

KEPALA SMA NEGERI 1 KARANGNONGKO KLATEN

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bangsa Indonesia merupakan kesatuan individu yang berada dalam satu negara kesatuan kawasan yang disebut Republik Indonesia. Jati diri suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas jiwa, semangat dan nilai-nilai kebangsaan sebagai perekat satu kesatuan individu yang berada dalam satu kawasan negara Indonesia. Dalam menghadapi berbagai tantangan yang terus berkembang, bangsa Indonesia harus tetap konsisten terhadap komitmen jati diri yang bersumber pada visi masa depan bangsa Indonesia.

Pendidikan sebagai pilar dasar pembentukan sumber daya manusia maka sangatlah hakiki bila pendidikan itu ditempatkan dalam suatu posisi paling diperlukan oleh setiap manusia. Untuk memahami pendidikan berarti kita harus mengerti hakikat pendidikan. Membicarakan masalah pendidikan tidak lepas dari sekolah menurut Toto Raharjo (1996:51). Sekolah merupakan tempat pendidikan, tempat guru mengajar dan tempat murid belajar, sehingga terjadilah proses belajar mengajar yang bertujuan untuk membangun manusia Indonesia seutuhnya, yaitu yang tercantum pada UU Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 BAB II Pasal 3 yang berbunyi :

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Reformasi pendidikan dan pembelajaran di abad pengetahuan dapat berlangsung dan berhasil dengan baik bila terdapat guru guru dan kepala sekolah yang profesioanal, Guru guru dan Kepala sekolah yang profesional akan senantiasa memiliki semangat pengabdian yang tinggi demi kemajuan bidang profesional yang dijalani.

Dalam proses pembelajaran, kepala sekolah dan guru merupakan ujung tombak dari keberhasilan pendidikan di sekolah, kepala sekolah dan guru diharapkan dapat bekerja secara profesional dalam proses pembelajaran di sekolah. Guru sebagai profesi dituntut untuk memiliki kompetensi profesional dan personal sebagai prasyarat performansinya. Melalui guru yang profesional dalam mengelola pendidikan dan pengajaran diharapkan menghasilkan keluaran pendidikan yang berkualitas.

Sebagai kepala sekolah yang masih baru karena dilantik tanggal 23 Desember 2004 dan menempati sekolah yang berada di pinggiran/pedesaan yaitu SMA N 1 Gantiwarno Kabupaten Klaten, provinsi Jawa Tengah, didaerah Gantiwarno kesadaran masyarakat akan pendidikan belum sepenuhnya disadari. Dengan adanya program MPMBS ( Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah ) yang menempatkan sekolah sebagai obyek perubahan ( inovasi ) karena sekolah dapat lebih mandiri dalam pemberdayaan seluruh komponen yang ada di sekolah, Sekolah kami ini disebut Sorgun karena letaknya dibawah gunung ( ngisor gunung ). Mewah artinya dikelilingi sawah ( mepet sawah ). Saya yang belum genap 1,5 tahun menjadi kepala sekolah, tepatnya baru 1 tahun 5 bulan 3 hari, pada tanggal 27 Mei 2006 mendapat cobaan dengan gempa bumi Jateng dan DIY. Gempa bumi menyebabkan SMA Negeri 1 Gantiwarno porak poranda sehingga proses pembelajaran terpaksa berada ditenda selama 6 bulan, dan hampir 70 % guru dan 60 % siswa kami berada ditenda karena rumah yang ditempati juga porak poranda terkena gempa bumi, Sekolah kami yang berada di pinggiran atas dasar pertimbangan di atas saya akan membagi pengalaman dengan proposal yang berjudul “ Inovasi Kepala Sekolah Daerah Gempa dalam Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan di SMA Negeri 1 Gantiwarno Klaten “

B. Dasar .

1. Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

2. PP Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

3. Undang-undang Republik Indonesia nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen.

C. TUJUAN

Sesuai dengan Surat Dirjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan nomor 1922/F3/LL/2007 tanggal 27 Juli 2007 tentang Konferensi Nasional Best Practies ini penulis sengaja memilih judul “ Inovasi Kepala Sekolah Daerah Gempa dalam Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan di SMA Negeri 1 Gantiwarno Klaten “

dengan tujuan agar dalam konferensi ini dapat menambah kasanah ilmu dan berbagi pengalaman.

D. Sasaran

Sesuai dengan Undang-undang Republik Indonesia nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 17, SMA Negeri 1 Gantiwarno Klaten termasuk daerah khusus karena daerah khusus adalah daerah yang terpencil atau terbelakang; daerah dengan kondisi masyarakat adat yang terpencil; daerah perbatasan dengan negara lain; daerah yang mengalami bencana alam, bencana sosial, atau daerah yang berada dalam keadaan darurat lain. Sumber daya guru dan tenaga administrasi yang mayoritas dalam rentang usia 30 tahun – 45 tahun merupakan tenaga yang potensial untuk dapat difungsikan secara optimal dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan pelayanan terhadap siswa guna meningkatkan mutu pendidikan. Sasaran yang diharapkan dalam proses pembelajaran di SMA N 1 Gantiwarno ini :

1. Mengembalikan dampak psikologis baik guru dan siswa yang terkena gempa

2. Terbangunnya tanggung jawab dan kedisiplinan segenap personil sekolah.

3. Terciptanya semangat belajar siswa akibat gempa sehingga mampu bersaing.

4. Terbentuknya etos kerja yang tinggi.

BAB II

GAMBARAN KEADAAN

A. Sejarah berdirinya SMA Negeri I Gantiwarno Klaten

SMA Negeri 1 Gantiwarno berdiri sejak tahun pelajaran 1997/1998, mulai pertama kali pendaftaran murid baru dirumah bapak Anang Sarwoko (Kepala Desa Karang Turi, Kecamatan Gantiwarno ), sekarang bapak Anang Sarwoko menjabat Ketua Komite SMA Negeri 1 Gantiwarno.

Mulai tahun pertama pada tahun pelajaran 1997/1998 sudah memiliki gedung dan menempati tanah kas desa Jabung Gantiwarno Klaten, yang menjabat sebagai Kepala Sekolah pertama kali Drs.Baryono ( Kepala SMA Negeri 1 Wedi ) yang mengampu mulai tahun pelajaran 1997/1998 sampai dengan dengan Juni 1998, mulai Juli 1998 sampai dengan 2001 Kepala Sekolah diganti oleh Sumarno,BA mulai 2001 sd 22 Desember 2004 Kepala sekolahnya Drs.Sumardi, mulai 23 Desember 2004 sampai 5 Juli 2007 Kepala Sekolahnya Drs Lugtyastyono Budinugroho,M.Pd, (yang menulis proposal ini,).

Mulai 5 Juli 2007 saya menjabat Kepala SMA Negeri 1 Karangnongko Kabupaten Klaten dan mulai 5 Juli 2007 Kepala SMA Negeri 1 Gantiwarno dijabat Drs Sahono sampai sekarang. Kalau sekarang tahun pelajaran 2007/2008 maka usia sudah menginjak 10 tahun, ibaratnya anak usia 10 tahun baru kelas 5 SD, meskipun usia baru 10 tahun, SMA Negeri I Gantiwarno Klaten sudah meluluskan 8 angkatan,dan alumni SMA Negeri I Gantiwarno Klaten sudah tersebar ada yang melanjutkan ke perguruan tinggi baik negeri maupun swasta, ada yang sudah bekerja di instansi pemerintah dan swasta

B. Visi, Misi dan Tujuan SMA Negeri 1 Gantiwarno Klaten

1. Visi

SMA Negeri 1 Gantiwarno menghasilkan lulusan yang terdidik, berdasarkan iman dan taqwa.

2. Misi

a. Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif sehingga siswa berkembang secara optimal, sesuai dengan potensi yang dimiliki.

b. Menumbuhkan semangat keunggulan secara intensif kepada seluruh warga sekolah.

c. Mendorong dan membantu setiap siswa untuk mengenali potensi dirinya sehingga dapat dikembangkan secara optimal.

d. Menumbuhkan penghayatan terhadap ajaran agama yang dianut dan juga budaya bangsa sehingga menjadi sumber kearifan dalam bertindak.

3. Tujuan

a. Menghasilkan lulusan yang berbudi luhur, berakhlak mulia dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa

b. Membekali ilmu pengetahuan dan keterampilan, pengembangan bakat minat dan kreativitas siswa, sehingga akan meningkatkan kuantitas dan kualitas siswa dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, olah raga dan seni, serta kewirausahaan sebagai bekal hidup di masyarakat

Sebelum era reformasi penyelenggaraan pendidikan nasional dilakukan secara sentralistik, sehingga menempatkan sekolah sebagai penyelenggara pendidikan sangat tergantung pada keputusan birokrasi yang mempunyai jalur yang sangat panjang dan kadang-kadang kebijakan yang dikeluarkan tidak sesuai dengan kondisi sekolah setempat, peran serta masyarakat khususnya orang tua siswa dalam penyelenggaraan pendidikan sangat minim, partisipasi masyarakat selama ini pada umumnya lebih banyak bersifat dukungan input (dana), bukan pada proses pendidikan (pengambilan keputusan , monitoring, evaluasi, dan akuntabilitas). Dengan digulirkannya otonomi daerah, maka konsekuensi logis bagi managemen pendidikan nasional adalah perlu dilakukan penyesuaian diri dari pola lama menuju pola baru yang lebih demokratis. Penyelenggaraan pendidikan secara sentralistik bergeser ke desentralistik, pengambilan keputusan yang terpusat bergeser menuju pengambilan keputusan yang partisipasif.

Program Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) di SMA Negeri 1 Gantiwarno menempatkan sekolah sebagai obyek perubahan karena sekolah dapat lebih mandiri dalam pemberdayaan seluruh komponen yang ada disekolah sesuai dengan kondisi lingkungan yang ada disekolahan tersebut.. Pemberian wewenang ( otonomi ) kepada sekolah diharapkan dapat mendorong sekolah untuk pengambilan keputusan secara partisipasif. Keterlibatan kepala sekolah dan guru dalam pengambilan keputusan-keputusan sekolah juga mendorong rasa kepemilikan yang lebih tinggi terhadap sekolahnya yang pada akhirnya mendorong mereka untuk menggunakan sumber daya yang ada seefisien mungkin untuk mencapai hasil yang optimal.

C. Peristiwa gempa tektonis yang terjadi di Gantiwarno

Gempa tektonik yang terjadi pada tanggal 27 Mei 2006 di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, khususnya yang terjadi di Klaten telah menghancurkan ribuan bangunan baik rumah penduduk maupun fasilitas publik. Salah satu fasilitas publik yang rusak berat akibat gempa tersebut adalah bangunan gedung SMA Negeri 1 Gantiwarno Kabupaten Klaten, bangunan porak poranda 95 % bangunan mengalami rusak berat (data kerusakan terlampir) sehingga sekolah berupaya, mencari Bantuan Rehabilitasi Bangunan Sekolah yang diharapkan dapat membuahkan hasil positif sehingga dapat memberikan dukungan dalam rangka pelaksanaan rehabilitasi sarana dan prasarana di SMA Negeri 1 Gantiwarno Kabupaten Klaten. Dengan terlaksananya rehabilitasi bangunan atau sarana prasarana, akan dapat memperlancar dan menunjang tercapainya visi, misi dan tujuan sekolah pada khususnya dan tujuan pendidikan nasional pada umumnya, sehingga SMA Negeri 1 Gantiwarno Kabupaten Klaten dapat kembali aktif mendidik anak-anak bangsa.

Gambar 1.1 Bangunan SMA N 1 Gantiwarno porak poranda akibat gempa tektonik pada tanggal 27 Mei 2006

Gambar 1.2. Bangunan SMA N 1 Gantiwarno porak poranda akibat gempa tektonikpada tanggal 27 Mei 2006

B. Identifikasi Tantangan Nyata Yang Dihadapi SMA N 1 Gantiwarno

1. Kondisi bangunan sekolah yang 95% rusak berat karena gempa bumi tektonik tanggal 27 Mei 2006

2. Peralatan/perlengkapan/alat bantu pendidikan yang banyak yang rusak

3. Gairah belajar masih belum optimal karena kebanyakan siswa masih trauma akibat gempa bumi

4. Kondisi sosial ekonomi orang tua siswa berada pada tingkat menengah kebawah bahkan lebih dari 60 % rumah siswa runtuh/rusak berat akibat gempa.

5. Semangat kompetisi antar siswa kurang.

C. Sasaran/Tujuan Situasional SMA N 1 Gantiwarno

a. Mencari alternatif agar proses pembelajaran dapat berlangsung lancar.

b. Rehabilitasi bangunan sekolah yang rusak berat akibat gempa bumi.

c. Tersedianya alat dan sarana penunjang proses pembelajaran yang memadai

d. Terciptanya semangat belajar siswa, sehingga mampu bersaing.

e. Terbentuknya etos kerja yang tinggi.

f. Terbangunnya tanggung jawab dan kedisiplinan segenap personil sekolah.

BAB III

PEMECAHAN MASALAH

A. Kegiatan Paska Gempa di SMA Negeri I Gantiwarno Klaten

Kondisi bangunan yang sangat memprihatinkan di SMA Negeri 1 Gantiwarno dan sisa-sisa runtuhan akibat gempa tektonik pada waktu itu sangat mengganggu kegiatan proses pembelajaran sehingga untuk memulihkan keadaan seperti ini membutuhkan waktu yang lama, padahal siswa-siswi SMA Negeri 1 Gantiwarno harus melaksanakan proses pembelajaran, untuk mengatasi hal ini kami sebagai kepala sekolah meminta bantuan dari bapak-bapak TNI dari kostrad yang kebetulan berada di lokasi gempa dan kebetulan juga dibantu oleh siswa siswi SMA Negeri 1 Karanganon Klaten ( kebetulan satu kabupaten wilayahnya tidak terkena gempa ) untuk membersihkan puing-puing dan bapak-bapak TNI dari kostrad membuatkan tenda-tenda untuk proses pembelajaran , ternyata tenda ini sangat bermanfaat, karena dapat dipergunakan untuk proses pembelajaran di SMA Negeri 1 Gantiwarno selama kurang enam bulan

Gambar 1.3. Kegiatan Upacara Senin didepan tenda yang dibuat

oleh bapak-bapak TNI Kostrad

Dengan adanya tenda yang dibuat oleh bapak-bapak TNI dari Kostrad maka proses pembelajaran dapat berjalan lancar, tetapi masih ada kendala lain karena kondisi sosial ekonomi orang tua siswa berada pada tingkat menengah kebawah bahkan lebih dari 60 % rumah siswa runtuh/rusak berat akibat gempa, sehingga untuk memulihkan trauma akibat gempa siswa-siswi SMA Negeri 1 Gantiwarno, kami bekerja sama dengan PMI (Palang Merah Indonesia) cabang Klaten, juga meminta bantuan adik-adik mahasiswa dari Universitas Brawijaya Malang yang diantar sendiri oleh Pembantu Rektor III bapak Drs.Cahyanulin Domai MS, adik adik mahasiswa melaksanakan kegiatan Out Bond disela-sela kegiatan proses pembelajaran untuk memulihkan trauma siswa, adik-adik mahasiswa teknik komputer kami minta membantu membetulkan peralatan komputer yang masih dapat dimanfaatkan.

Gambar3.2.. Pembantu Rektor III Universitas Brawijaya Malang

Drs.Cahyanulin Domai MS menyerahkan mahasiswa KKN

yang diterima oleh Kepala SMA N 1 Gantiwarno Drs Lugtyastyono BN,M.Pd

B. Pelaksanaan Penerimaan Siswa Baru SMA Negeri I Gantiwarno Klaten tahun pelajaran 2006/2007.

SMA Negeri 1 Gantiwarno harus melaksanakan proses pembelajaran untuk tahun pelajaran 2006/2007. Pendekatan pemecahan masalah yang kami terapkan sebagai kepala sekolah telah mampu menyesuaikan terhadap perubahan lingkungan yang ada akibat gempa. Dukungan dari para orang tua, pemerintahan daerah dan masyarakat telah memberikan masukan untuk keperluan pengembangan sekolah. Bentuk kerjasama berupa membantu promosi dan perbaikan sarana prasarana yang membuat SMA Negeri 1 Gantiwarno Klaten untuk tahun pelajaran 2006/2007 ternyata jumlah siswa justru bertambah diluar perkiranan kami. Dukungan dari pemerintah daerah / Bapak Bupati Klaten Drs Sunarno SE sangat membantu kami dalam melaksanakan tugas. Beliau kami minta membuka kegiatan MOS ( Masa Orientasi Siswa ) baru tahun pelajaran 2006/2007 di SMA N 1 Gantiwarno

Gambar 3.3. Upacara Pembukaan MOS Siswa Baru

SMA Negeri 1 Gantiwarno Klaten tahun pelajaran 2006/2007

oleh Bupati Klaten Bapak Sunarno,SE

Gambar 3.4. Kegiatan Parktikum Biologi dan Kegiatan Pembelajaran

SMA Negeri 1 Gantiwarno Klaten berada di tenda

C. Rehabilitasi Bangunan Paska Gempa SMA N 1 Gantiwarno.

Gedung SMA Negeri 1 Gantiwarno secara perlahan-lahan bangkit kembali, berkat keja sama stage holder yang ada di sekolah, pertama kali kami bersama-sama dengan guru dan karyawan membuat proposal bantuan ke Universitas Brawijaya Malang padahal waktu itu di Sidoharjo juga terjadi bencana Lapindo, berkat kegigihan kami menghubungi Pembantu Rektor III Universitas Brawijaya Malang Drs.Cahyanulin Domai MS, akhirnya Universitas Brawijaya Malang. Merehabilitasi 3 bangunan kelas.

Gambar 3.5.Drs Lugtyastyono Bn MPd ( KS )dan beberapa guru menyambut kedatangan Pembantu Rektor III Universitas Brawijaya Malang Drs.Cahyanulin Domai MS untuk menyerahkan 3 gedung kelas yang telah dibangun oleh Universitas Brawijaya Malang

Bantuan dari Depdiknas juga mengalir sehingga sekarang ini Gedung SMA Negeri 1 Gantiwarno sudah megah ruang kelas cukup, dilengkapi perpustakaan, Aula untuk pertemuan orang tua/ wali murid/ kegiatan kesenian Laboratorium IPA, Laboratorium Media, Laboratorium Komputer dilengkapi internet, dan radio komunitas/ pemancar radio yang dapat dimanfaatkan oleh siswa berlatih jadi penyiar dan Masjid yang berdiri megah disamping gedung.

Gambar 3.6.1. Gedung SMA N 1 Gantiwarno mulai dibangun

Gambar 3.6.2. Gedung SMA N 1 Gantiwarno mulai dibangun

Gambar 3.7.. Gedung SMA N 1 Gantiwarno yang baru

D. Alat dan Sarana Penunjang Proses Pembelajaran di SMA N 1 Gantiwarno Klaten Lengkap

Banyak kemajuan yang terjadi pada SMA Negeri 1 Gantiwarno Klaten tahun pelajaran 2006/2007 misalnya jumlah siswa bertambah, laboratorium komputer dilengkapi dengan internet dan telah memiliki website www.sman1gtw-klaten.sch.id untuk melayani siswa dengan ketrampilan sebagai persiapan mereka baik untuk kehidupan di tingkat perguruan tinggi maupun untuk keperluan life skile. Berdasarkan pantauan kami ternyata beberapa alumni SMA Negeri 1 Gantiwarno dan masyarakat yang diperantauan telah mengisi buku tamu di website dan ada beberapa alumni ada yang membantu peralatan yang ada di sekolah.

Gambar 3.8. Kegiatan Parktikum Komputer dilengkapi Internet

SMA Negeri 1 Gantiwarno Klaten

Untuk dapat mendukung kegiatan keagamaan siswa, sebuah musholla telah dibangun.. Guru sangat mendukung serta sangat positif terhadap perubahan yang telah terjadi. Guru lebih termotivasi dalam mengajar dan memotivasi siswa untuk belajar lebih aktif, karena media pembelajaran baik LCD, laptop, VCD,TV, OHP yang kami usahakan baik dari orang tua maupun donatur ( majalah Hai ).

Gambar 3.9..Penyuluhan Narkoba oleh Drs Sriyono (guru BK) dengan LCD dan LaptopKelas X, SMA Negeri 1 Gantiwarno Klaten

Kegiatan guru dan masalah-masalah guru dievaluasi dalam rapat-rapat dewan guru yang dilaksanakan tiap 2 kali sebulan. Prestasi siswa baik akademik maupun non-akademik mengalami peningkatan. Siswa lebih disiplin dan tertib waktu karena sekolah telah dibangun pagar yang mengelilingi gedung sekolah dan personil STP2K menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya, bagi siswa yang terlambat 5 menit atau lebih dihukum dengan push up bagi siswa, sedang siswi putri dihukum scot jam, dengan hukuman ini siswa jadi jera akhirnya jarang sekali siswa yang terlambat masuk sekolah.. Saat ini laboratorium IPA juga telah digunakan sebagai tempat peragaan tempat praktek dan demonstrasi. Perpustakaan juga sudah digunakan meningkatkan sumber perpustakaan dengan menambah lagi buku-buku bidang studi nasional yang berasal dari sumbangan dari siswa-siswi kelas XII yang telah berhasil lulus.

Kegiatan proses pembelajaran diluar kelas juga kami adakan pada mata pelajaran bahasa Inggris dengan mendatangi lokasi candi prambanan, siswa-siswi belajar menjadi gaet berbicara dengan turis manca negara

Gambar 3.10..Siswi SMA Negeri 1 Gantiwarno Klaten berbincang-bincang dengan turis dari Austria di Candi Prambanan Klaten

Kegiatan Eksta kurikuler yang kita kembangkan di SMA N 1 Gantiwarno antara lain : Pramuka, Membatik, Seni Kriya, Sablon, BTA ( Baca Tulis Alquran ), Basket dan masih banyak yang lain yaitu pengembangan jadi penyiar radio

Gambar 3.11…Siswi SMA Negeri 1 Gantiwarno Klaten berlatih teknik sablon

E. Arisan Keluarga SMA N 1 Gantiwarno.

Suasana kekeluargaan di SMA Negeri 1 Gantiwarno sangat harmonis. Meskipun dalam suasana gempa, kegiatan arisan keluarga tetap berjalan dan kegiatan arisan keluarga inilah yang membantu kami sebagai kepala sekolah menyampaikan hal-hal yang berhubungan dengan kemajuan sekolah dan hal-hal lain yang berhubungan dengan peningkatan mutu pendidikan di SMA Negeri 1 Gantiwarno. Kegiatan arisan keluarga bergilir tiap 2 bulan sekali dan dlaksanakan di rumah bapak ibu guru secara bergilir, sehingga kepala sekolah mengetahui keadaan masing-masing keluarga, baik keluarga guru dan karyawan yang ada di SMA Negeri 1 Gantiwarno.

Gambar 3. 12. Suasana Arisan Keluarga dan Darmawanita

SMA Negeri 1 Gantiwarno Klaten dirumah bapak Joko Nugroho SPd

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Sebagai kepala sekolah yang berada di pinggiran/pedesaan seperti SMA N 1 Gantiwarno Kabupaten Klaten dan baru saja terkena gempa yang menyebabkan gedung sekolah porak poranda dan hampir 70 % guru, 60 % siswa juga berada di tenda karena rumah yang di tempati juga porak poranda terkena gempa bumi.

Kita sebagai kepala sekolah tidak boleh putus asa harus memiliki jiwa kepemimpinan yang tangguh agar mampu memobilisasi sumber daya yang ada di sekolah serta harus mampu mengambil keputusan dan prakarsa untuk mencari alternatif agar supaya anak dapat kembali aktif karena anak-anak bangsa harus kembali aktif untuk belajar.

Kepala Sekolah juga harus mampu mencari terobosan-terobosan dengan stage holder yang ada di sekolah agar siswa siswa yang trauma segera pulih kembali dan proses pembelajaran dapat berjalan lancar, kepala sekolah juga harus mampu menjaga hubungan dengan masyarakat sekitar dan pemerintah daerah serta pemerintah pusat agar rehabilitasi dan renovasi sekolah segera terwujut dan program-program yang telah disusun dapat terlaksana, disamping itu perlu meningkatkan mutu sekolah.

Kepala sekolah juga harus mampu, mengusahakan sarana dan prasarana yang kaitannya dengan perencanaan dan evaluasi program sekolah agar pengembangan kurikulum, pembelajaran, pengelolaan ketenagaan, sarana dan sumber belajar, keuangan, pelayanan siswa, dan penciptaan iklim sekolah. yang kondusif

kepala sekolah dituntut memiliki inovasi untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah yang dikelolanya

B. Saran-saran.

1. Saran untuk Dinas Pendidikan dan Kebudayaan

a. Koordinasi dengan instansi terkait dan MKKS (Musyawarah Kerja Kepala Sekolah), dalam mensosialisasikan dampak gempa terhadap proses pembelajaran disekolah.

b. Sekolah yang berada di daerah gempa dibantu mencari solusi, agar proses pembelajaran di sekolah yang tersebut berjalan lancar, karena anak-anak bangsa harus kembali aktif belajar.

2. Saran untuk Pengelola Sekolah.

a. Mencari terobosan-terobosan dengan stage holder yang ada di sekolah agar siswa siswa yang trauma terhadap gempa segera pulih kembali.

b. Hendaklah mengusahakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan oleh guru dan siswa yang kaitannya dengan perencanaan dan evaluasi program sekolah agar proses belajar mengajar dapat berlangsung baik.

c. Hendaklah mengirimkan guru untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan yang berhubungan pengembangan Inovasi pembelajaran di daerah gempa dan penerapannya di lapangan sesuai dengan sekolahan masing-masing.

3. Saran untuk Guru

Hendaklah menguasai betul-betul menghadapi anak anak yang terkena gempa dan dapat menerapkannya sesuai dengan keadaan di sekolah masing-masing.

Hendaklah menguasahi betul-betul lingkungan sekitar agar dapat di manfaatkan sebagai sumber belajar.

4. Saran untuk Komite Sekolah

Hendaklah komite sekolah selalu mendukung setiap program sekolah yang menunjang peningkatan mutu pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Bahan Sosialisasi UU Guru dan Dosen PGRI Provinsi Jawa Tengah ( Undang Undang Republik Indonesianomor14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen ), Persatuan Guru Republik Indonesia Prov Jateng, Semarang.

2. Mahmud,DM. 1989. Sosiologi Pendidikan. Jakarta : Depdikbud- Dikti.P2LPTK.

3. Purwodarminto 1986 . Kamus Bahasa Indonesia Jakarta : Balai Pustaka

4. Toto Raharja.. 1996. Membangun Kesadaran kritis Jakarta : Balai Pustaka.

5. Sistem Pendidikan Nasional ( UU RI No 20 Tahun 2003 ) beserta peraturan pelaksanaanya”. 2003. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s