5. KTSP di era OTDA

Upaya Pembaharuhan Dalam Pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)

di Era Otonomi Daerah

Oleh : Drs. LUGTYASTYONO BUDINUGROHO,M.Pd.

( Kepala SMA Negeri 1 Karangnongko, Klaten)

 

 

Sebelum era reformasi penyelenggaraan pendidikan nasional dilakukan secara sentralistik, sehingga menempatkan sekolah sebagai penyelenggara pendidikan sangat tergantung pada keputusan birokrasi yang mempunyai jalur yang sangat panjang dan kadang-kadang kebijakan yang dikeluarkan tidak sesuai dengan kondisi sekolah setempat, peran serta masyarakat khususnya orang tua siswa dalam penyelenggaraan pendidikan sangat minim, partisipasi masyarakat selama ini pada umumnya lebih banyak bersifat dukungan input (dana), bukan pada proses pendidikan (pengambilan keputusan , monitoring, evaluasi, dan akuntabilitas).Dengan digulirkannya otonomi daerah menjanjikan harapan untuk mempercepat perkembangan sektor pendidikan di Indonesia. Kunci utama yang memicu akan timbulnya harapan baru tersebut berjalan kearah desentralisasi. Program Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) menempatkan sekolah sebagai obyek perubahan karena sekolah dapat lebih mandiri dalam pemberdayaan seluruh komponen yang ada disekolah sesuai dengan kondisi lingkungan yang ada disekolah tersebut, manajemen berbasis sekolah, dan pemberdayaan sekolah serta masyarakat untuk mempengaruhi hasil (outcomes) sekolah, juga kesatuan tujuan-tujuan dari semua sektor pendidikan. Sesuai dengan kebijakan Departemen Pendidikan Nasional yang tertuang dalam Peraturan Mendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi (SI) dan Peraturan Mendiknas No. 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL), sekolah diwajibkan menyusun kurikulumnya sendiri. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) itu memungkinkan sekolah menitikberatkan pada mata pelajaran tertentu yang dianggap paling dibutuhkan siswanya.Sebagai contoh misalnya, sekolah yang berada di Kabupaten Klaten ini misalnya : di kecamatan Wedi merupakan daerah konveksi sehingga sekolah yang ada disekitarnya dapat lebih memfokuskan pada mata pelajaran menjahit atau teknik penyablonan atau mata pelajaran yang berhubungan dengan bidang konveksi lainnya, di kecamatan Prambanan merupakan daerah Pariwisata banyak turis manca negara karena ada candi prambanan, sehingga sekolah yang ada disekitarnya dapat lebih memfokuskan pada mata pelajaran bahasa Inggris lainnya yang dapat dipraktekkan dengan belatih bahasa Inggris dengan turis mancanegara tersebut. Sekolah-sekolah tersebut tidak hanya menjadikan materi bahasa Inggris dan kepariwisataan sebagai mata pelajaran saja, tetapi lebih dari itu menjadikan mata pelajaran tersebut sebagai sebuah ketrampilan. Sehingga kelak jika siswa yang ada di sekitar candi prambanan ini telah menyelesaikan studinya bila mereka tidak berkeinginan untuk melanjutkan studinya ke jenjang perguruan tinggi mereka dapat langsung bekerja menerapkan ilmu dan ketrampilan yang telah diperoleh di bangku sekolah, masih banyak contoh yang lainnya seperti misalnya di kecamatan Polanharjo dapat dikembangkan Perikanan, di kecamatan Pedan dapat dikembangkan industri tekstil/tenun dan masih banyak contoh lainnya yang dapat dikembangkan disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada disekitar sekolah yang akan menerapkan KTSP.Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) ini sesungguhnya lebih mudah, karena guru diberi kebebasan untuk mengembangkan kompetensi siswanya sesuai dengan lingkungan dan kultur daerahnya. KTSP juga tidak mengatur secara rinci kegiatan belajar mengajar (KBM) di kelas, tetapi guru dan sekolah diberi keleluasaan untuk mengembangkannya sendiri sesuai dengan kondisi murid dan daerahnya. Pengembangan aspek-aspek tersebut bermuara pada peningkatan dan pengembangan kecakapan hidup (life skill) yang diwujudkan melalui pencapaian kompetensi peserta didik untuk bertahan hidup, menyesuaikan diri, dan berhasil di masa datang. dengan demikian peserta didik memiliki ketangguhan, kemandirian, dan jati diri yang dikembangkan melalui pembelajaran dan atau pelatihan yang dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan

Keberhasilan suatu pembaharuan/inovasi pendidikan, khususnya inovasi dalam pengenalan pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan sangat bergantung pada seberapa jauh dimensi koordinasi dapat dilakukan secara efektif dan komunikatif antar “stakeholder”yang terkait. Prinsip dasar yang perlu diperhatikan dalam koordinasi adalah “kesamaan visi” dan “kesamaan langkah” dalam memberikan bantuan pada sekolah (guru dan kepala sekolah) sehingga sekolah tidak kebingungan ketika akan memulai untuk menerapkan Kurikulum. Tingkat Satuan Pendidikan Dalam kondisi ini, sekolah (guru dan Kepala Sekolah) harus berada pada titik pusat “network” yang simpul-simpulnya menyertakan “stakeholder” lain yang berkepentingan dengan sekolah baik kepentingan pembinaan maupun kepentingan pemanfaatannya.

Pola Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) ini akan memberi angin segar pada sekolah-sekolah yang menyebut dirinya sekolah negeri plus. Sekolah-sekolah swasta yang kini marak bermunculan itu sejak beberapa tahun terakhir telah mengembangkan variasi atas kurikulum yang ditetapkan pemerintah. Sehingga ketika pemerintah kemudian justru mewajibkan adanya pengayaan dari masing-masing sekolah, sekolah-sekolah plus itu jelas akan menyambut gembira, Pemerintah daerah dapat lebih leluasa berimprovisasi dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Di samping itu, sekolah bersama komite sekolah diberi otonomi menyusun kurikulum sendiri sesuai dengan Kebutuhan yang ada dilapangan.

Kesimpulan yang diperoleh dalam tulisan ini : Dengan diberlakukan penerapan KTSP disetiap sekolah mulai dari tingkat SD sampai dengan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas ( SMA dan SMK), sesuai dengan konsep desentralisasi pendidikan sejalan dengan pelaksanaan otonomi daerah dan konsep manajemen berbasis sekolah (MBS) yang mencakup otonomi sekolah di dalamnya sehingga sekolah dapat berimprovisasi yang disesuaikan dengan situsai dan kondisi yang ada disekolah tersebut

2 thoughts on “5. KTSP di era OTDA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s