Pro Kontra Ujian Nasional

Pro Kontra Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2005/2006
Oleh :
Drs. LUGTYASTYONO BUDINUGROHO,M.Pd.
( Kepala SMA Negeri 1 Gantiwarno, Klaten Periode 23 Des 2004 sd 5 Juli 2007 )

Ujian Nasional adalah kegiatan pengukuran dan penilaian kompetensi peserta didik / siswa yang dilaksanakan secara nasional pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 58 ayat 2 : Evaluasi peserta didik, satuan pendidikan, dan program pendidikan dilakukan oleh lembaga mandiri secara berkala, menyeluruh, transparan, dan sistematik dalam rangka Pencapaian Standar Nasional Pendidikan. disamping itu kegunaan Ujian Nasional adalah 1). Pemetaan mutu program dan/atau satuan pendidikan;dan sebagai dasar seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya. 2).Penentuan kelulusan peserta didik dari program dan/atau satuan pendidikan 3). Pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upayanya untuk meningkatkan mutu pendidikan.
Pada waktu saya Diklat Bintek Manajemen Kepala Sekolah di LPMP semarang saya berbincang-bincang dengan Prof.Dr.H.Mungin Eddy Wibowo,M.Pd.,Kons. beliau salah satu anggota BSNP ( Badan Standart Nasional Pendidikan) dan tim perumus UNAS 2005/2006, BNSP sendiri adalah yang bertugas menyelenggarakan ujian nasional yang diikuti peserta didik pada setiap satuan pendidikan jalur formal pendidikan dasar dan menengah dan jalur nonformal kesetaraan. dan BSNP bekerja sama dengan instansi terkait di lingkungan Pemerintah, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/ Kota. Ia mengatakan bahwa kelulusan peserta didik tidak hanya ditentukan oleh Ujian Nasional tetapi juga Ujian Sekolah, tetapi menurut penulis kenyataan dilapangan jarang sekali, siswa yang tidak lulus hanya gara-gara nilai ujian sekolah, kalau nilai ujian nasional sudah memenuhi syarat dan anak memiliki nilai kelompok pendidikan agama dan kepribadian / budipekerti sekurang-kurangnya baik, pasti anak tersebut lulus, sebetulnya keberhasilan pendidikan tidak sekedar diukur dari nilai akademik ,tapi yang lebih substansial adalah menghasilkan output dan outcome yang memiliki kemampuan menghadapi dan mengatasi segala macam akibat dari adanya perkembangan dan perubahan yang terjadi dalam lingkungan serta memiliki emosi dan social yang baik.
Pada jenjang SMP/MTs/SMPLB mata pelajaran yang di UNAS kan adalah Bhs. Indonesia, Bahasa Inggris dan Matematika, untuk SMA/MA program IPA mata pelajaran yang di UNAS-kan Bahasa & Sastra Indonesia, Bahasa Inggris dan Matematika, Untuk program IPS : Bahasa & Sastra Indonesia, Bhs Inggris dan Ekonomi, dan Program Bahasa : Bahasa Indonesia, Bahsa Inggris dan bahasa Asing lainnya, memang didalam Peraturan Mendiknas Nomor 20. Pasal 18 untuk batas kelulusan tahun pelajaran 2005/2006 lebih sulit dibandingkan dengan tahun pelajaran 2004/2005 tahun yang lalu karena peserta didik dinyatakan lulus ujian nasional apabila memiliki nilai lebih besar dari 4,25 untuk setiap mata pelajaran yang diujikan dengan rata-rata nilai ujian nasional lebih besar dari 4,50 dan peserta didik yang dinyatakan lulus ujian nasional dan ujian sekolah berhak memperoleh ijazah, dan tidak ada ujian susulan seperti tahun yang lalu, sehingga mata pelajaran yang tidak di UAN-kan seperti hanya sebagai mata pelajaran pelengkap saja.
Karena kegunaan nilai ujian nasional sebagai dasar seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya terutama untuk melanjutkan SMA maka banyak sekolah, guru dan siswa kelas 3 SLTP seakan lebih berkonsentrasi pada persiapan Ujian Nasional ada penambahan jam pelajaran, lewat tutor., sehingga mata pelajaran yang di UN-kan sering dianggap yang paling utama, dan mata pelajaran yang tidak di UN-kan seperti mata pelajaran yang dianak tirikan, penentuan kelulusan yang hanya ditentukan oleh tiga mata pelajaran ( hanya sebagian kecil mata pelajaran yang diajarkan di sekolah ) sungguh tidak rasional, bahkan banyak orang tua peserta didik yang merasa anaknya kurang dengan tambahan pelajaran disekolah merasa perlu untuk mencari bimbingan belajar agar lulus dan memiliki nilai mata pelajaran yang di UN-kan bagus sehingga mendapatkan sekolah yang favorit, orang tua peserta didik tidak semuanya mampu untuk membayar biaya tambahan bimbingan belajar.
Pada hari senin tanggal 19 juni 2006 sehabis pengumuman hasil kelulusan disekolahan kami saya berbicang-bincang denagan Pak Rajikan SPd ( Sesepuh di sekolahan kami, salah seorang guru di tempat kami yang mengajar bidang studi fisika selama 24 tahun ), beliau tidak mempersoalkan apakah ujian nasional lebih baik diadakan atau tidak, hanya saja kalau memang diadakan sebaiknya untuk kelas XII / 3 (IPA) pada jenjang SMA mata pelajaran yang diujikan secara nasional tidak hanya Matematik, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris tetapi juga mata pelajaran seperti Biologi, Kimia dan Fisika juga ikut diujikan seperti UNAS tahun 90 an, sehingga ke Khasan jurusan IPA tetap ada, untuk klas 3/XII IPS sudah mewakili karena sudah ada mata pelajaran ekonomi yang di UAN-kan, tetapi juga perlu ditambah mata pelajaran khas IPS seperti Anthropologi, Sosiologi atau Geografi, sehingga tidak ada mata pelajaran yang merasa dianak tirikan, karena hanya diuji sekolah saja, untuk peserta didik SMA asal anak sudah lulus tidak masalah karena kalau ingin melanjutkan ke perguruan tinggi melalui Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) siswa harus di uji lagi dengan mata pelajaran tertentu.
Didalam Kurikulum Berbasis Kompetensi sebetulnya penilaian tidak hanya ranah kognitif saja, tetapi masih ada ranah afektif dan ranah psikomotorik, menurut Drs.Sudarto,MA anggota DPD RI dan juga ketua PGRI Provinsi Jawa Tengah (Derap Guru edisi april 2006 hal 20) beliau tidak setuju kalau Pola ujian nasional tidak efektif sebagai alat penilaian yang komprehensif karena lebih mengutamakan ranah kognitif, Pola ujian nasional juga sangat tidak efektif sebagai alat penilaian terhadap ketercapaian tujuan pendidikan dan beliau menjelaskan bahwa dirinya mendukung adanya Ujian Nasional tetapi polanya harus diperbaiki dan disempurnakan.
Kesimpulan yang diperoleh dalam tulisan ini adalah pemerintah, masyarakat, dan organisasi yang peduli terhadap pendidikan perlu duduk bersama mencarikan solusi yang terbaik agar Ujian Nasional yang telah dilaksanakan dan yang akan dilaksanakan pada tahun-tahun mendatang dapat meningkatan mutu pendidikan dan terpenuhinya standart pelayanan minimal secara merata dan pelunya sosialisasi kemasyarakat agar tidak menimbulkan kontroversi yang berkepanjangan sehingga akan merugikan dunia pendidikan di negara Indonesia tercinta ini.
( Telah diterbitkan di : Koran Klaten no 19 / th I / Juli 2006 )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s